Pernahkah kau begitu mencintai seseorang, hingga menatapnya dari kejauhan saja sudah cukup untukmu?
Pernahkah kau begitu menyayangi seseorang, hingga melihatnya tersenyum sudah cukup membuatmu turut berbahagia?
Pernahkah kalian begitu menginginkan seseorang, hingga rela melakukan apa saja untuk membuatnya tetap disampingmu?
Aku pernah. Tapi dengan begitu bodohnya aku membiarkannya pergi, tepatnya aku yang memintanya pergi. Aku menyadari itulah kesalahan terbesarku saat ini. Dengan segala upaya yang telah aku lakukan untuknya, dengan segala hati dan jiwaku yang ikut larut didalamnya, aku justru memintanya pergi. Aku yang mendorongnya menjauhiku untuk biarkannya dapatkan cinta yang lebih kuat dari cintaku, dapatkan
perempuan yang lebih bisa diterimanya dibandingku. Itu kebodohanku, menurutku. Dan aku tidak pantas untuk menyesalinya karena aku dengan sadar memerintahkannya untuk pergi dan dia takkan kembali. Aku mencintainya, Sepi, tapi aku juga tidak tahu mengapa bisa aku membiarkannya lepas dari genggamanku, menjauh dari hidupku.
perempuan yang lebih bisa diterimanya dibandingku. Itu kebodohanku, menurutku. Dan aku tidak pantas untuk menyesalinya karena aku dengan sadar memerintahkannya untuk pergi dan dia takkan kembali. Aku mencintainya, Sepi, tapi aku juga tidak tahu mengapa bisa aku membiarkannya lepas dari genggamanku, menjauh dari hidupku.
Dia yang selalu mengisi hariku. Dia yang selalu ada saat kurindukannya. Dia yang selalu menghampiriku dengan senyumnya yang seketika membuat hariku cerah. Dia yang mendatangiku dengan sejuta cinta dalam genggaman tangannya. Dia yang memelukku dengan seenap jiwanya, dan dia yang kepadaku dititipinya hati dan mimpi yang takkan berakhir.
Tapi, kenangan itulah yang semakin menyiksaku saat ini. Tak ada rasa sakit lain yang memenuhi relung hatiku sesakit ini. Dengan kesadaranku sendiri, kusobek hatiku dan kubuang entah kemana. Aku begitu mencintainya, hingga aku pernah berpikir untuk tak menyerahkan diriku ini untuk orang lain. Tapi dia berkata lain. Dia rela aku menolaknya, dengan alasan tidak bisa kujalani cinta dengannya karena kutahu itu hanya akan menambah duka dan pengorbanannya. Aku tidak rela dia merendahkan diri dan dihina hanya untuk tetap bersamaku. Itulah mengapa aku tetap bersikeras untuk menjauhinya, meletakkan tanganku di dadanya untuk berkata 'Aku Sudah Tidak Mencintaimu'. Padahal egoku berteriak kencang bahwa aku mencintainya!!
Maafku terucap lirih untuknya, mengiringi langkahnya yang menjauh pergi dan hingga bayangannya hilang ditelan dunia..
Aku berkata aku tetap menyayanginya. Tapi masih pantaskah aku mengucapkannya untuk orang yang sudah kusakiti hatinya sedemikian rupa? Aku hanya ingin dia tahu, seberat apapun perpisahan, jika Gusti Allah mentakdirkan kita untuk tetap bersama, aku dan dia tidak akan pernah jauh.
Untukmu, jangan menyerah untuk mendapatkan cintamu, jangan biarkan hanya dengan 1 kebodohan saja, kau membuatnya pergi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Ayo berikan pendapatmu untuk post ini...
^.^