Selasa, 22 Februari 2011

Aku Harus Merelakannya Pergi





Pernahkah kau begitu mencintai seseorang, hingga menatapnya dari kejauhan saja sudah cukup untukmu?

Pernahkah kau begitu menyayangi seseorang, hingga melihatnya tersenyum sudah cukup membuatmu turut berbahagia?
Pernahkah kalian begitu menginginkan seseorang, hingga rela melakukan apa saja untuk membuatnya tetap disampingmu?

Aku pernah. Tapi dengan begitu bodohnya aku membiarkannya pergi, tepatnya aku yang memintanya pergi. Aku menyadari itulah kesalahan terbesarku saat ini. Dengan segala upaya yang telah aku lakukan untuknya, dengan segala hati dan jiwaku yang ikut larut didalamnya, aku justru memintanya pergi. Aku yang mendorongnya menjauhiku untuk biarkannya dapatkan cinta yang lebih kuat dari cintaku, dapatkan

Minggu, 30 Januari 2011

Sepiku Selama Ini Berikan Arti

Aku menyadari, betapa banyak perubahan yang terjadi pada diriku selama ini. Hari demi hari kulalui dengan keyakinan yang berbeda, dengan gerak langkah yang tak selalu sama, tapi dengan 1 tujuan, mencari arti diri ini menjalani hidup yang telah dianugerahkan padaku. Perubahan yang kudapat saat ini adalah hasil dari perjuanganku mengalahkan segala rasa takut, segala ketakpercayaan akan keberhasilan dan segala kepesimisan menatap hari esok yang lebih cerah.


Sepiku yang selama ini kujadikan pelindungku untuk menamengiku dari segala cacian, segala kegagalan, segala kesakitan dan segala ketakberdayaan lambat laun mulai kuseimbangkan dengan kondisi yang sedang berlaku. Aku tau aku tak akan mampu untuk memulai segala sesuatu dari diriku sendiri, tapi betapa menyenangkannya melihat kebelakang sebagai

Senin, 24 Januari 2011

Ketakutan Itu Mulai Menghantuiku

Dear sepi,


Engkaukah yang ada disana? Menantiku dengan kedamaian hati yang tak tergantikan..?


Aku ragu, karena baru kali ini aku mendapat tekanan dari berbagai pihak. Seolah tak satupun yang berpihak padaku, menemaniku, membelaku, menggantikan posisimu yang dulu begitu sempurna disisiku. Betapa aku merindukan pelukan kedamaianmu melingkupiku. Hangatnya logika darimu yang menyegarkan pikiranku kembali. Tapi resahku kini kalahkan segalanya.


Inikah hukuman darimu sepi? Untukku yang selalu tak pedulikanmu dikala aku bahagia? Jangan lakukan ini padaku, karena sekarang tiap kau muncul di benakku, hanya kesedihan yang muncul. Hanya tangis tertahanku yang ingin tumpah. Dan hanya isakku yang keluar dari bibirku...


Sepi, terimakasihku untukmu selalu karena kusadar kau tidak pernah benar-benar meninggalkanku. Kau hanya menjaga diri untuk tidak terlalu dekat denganku, supaya aku menyadari bahwa nyatalah yang harus kuhadapi, bukan hanya kesendirian. Tapi sepi, tahukah kau bahwa ketakutan itu mulai merajai hatiku? Mulai menggerogoti setiap inci pikiran ini hingga kekalutan yang kuhadapi serasa membuatku terdorong maju dan mendekati masalah sebenarnya. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan sepi? Apa yang akan kuhadapi, dan apa yang sekarang kuyakini untuk selesaikan itu semua.


Tetaplah berada bersamaku, untuk berikanku keyakinan akan segala tindakan yang kulakukan, akan segala hal yang kutakuti, bahwa Tuhan memberiku apa yang kubutuhkan, bukan yang kuminta.


Sepi, terimakasih sudah mengajariku bagaimana menghadapi segala resiko dari segala tindakan yang kuambil. Walaupun belum semua benar-benar kuketahui, tapi aku sudah belajar..


Terimakasih sepiku..

Rabu, 12 Januari 2011

sosok lain pengganti sepi

Kini, perlahan kesadaran mulai merasuki pikiranku. Dia yang selalu terdiam, kini mulai kusadari eksistensinya sebagai seorang yang setia menemaniku dalam sepi. Entah harus berbahagia ataukah harus bersedih karena sekarang ini kekacauan yang merayapi pikiran penatku. Sosok ini selalu memberiku energi positif untuk menjalani hari dan rutinitas yang membosankan dan melelahkan. Aku tak tahu harus berbahagia ataukah harus bimbang atas segala kondisi yang menghampiriku.


Dia, pengganti sepiku. Tapi dia yang lain kini sudah kembali lagi. Sepi, itukah dirimu dalam sosoknya? Ataukah hanya sebuah semu yang hanya ditunjukkan untuk membuatku tersenyum

Rabu, 05 Januari 2011

Aku Yang Baru

Pagi ini kulihat dari kaca jendela kantorku jika bisa disebut kantor beku, dan dingin. Aku berdiam sejenak disela kekosongan jadwal kerja (hmm, masih tutup buku), jadi kuputuskan menulis sajalah, sekedar bercerita, entah untuk berbagi beban ataupun kesenangan. Ini posting pertamaku tahun ini.


Tahun yang baru, dan kesedihan yang baru. Tapi bukan berarti hanya kesedihan yang datang, mungkin aku sedang diberi penempaan dari Tuhan untuk menjadi manusia yang lebih kuat dan tidak hanya menjadi makhluk lemah yang hanya bisa menangis ketika ditinggalkan.


Begitu banyak yang harus direnungkan akhir tahun dan awal tahun. Mungkin itu

Selasa, 21 Desember 2010

Sepiku Kini Berteman Fajar

Dear Sepi,
Di indahnya pagi hari aku menemukan keindahan lagi selain dirimu, betapa Tuhan menciptakannya begitu indah hingga mempesonakan mataku akan indahnya dunia ini. Namanya Fajar, dia kini menemaniku, walaupun entah aku sukar sekali untuk bertemu dengannya, kuharap kalian bisa berteman baik. Karena dia kini menjadi pelengkap senjaku yang telah tiada. Sepi, aku ingin sekali ada perubahan dalam diriku, tapi tak kunjung kutemui itu. Haruskah aku berlari mengejar yang tak pasti, atau aku harus menunggu perubahan itu datang dengan sendiri?


Aku lelah, tapi aku tetap tidak patah semangat, karena jati diriku sendiri, sudah menunggu di ujung mimpi. Akan kuraih...

Minggu, 21 November 2010

Sepi, dia ikut pergi...

Dear sepi,


Sepiku kini memutuskan untuk pergi, ya Tuhan, tak kusangka dia benar-benar melepasku, disaat aku sudah terpati dengannya. Jangan datang lagi, karena jika kau kembali, hati ini akan semakin terasa perih, tersayat pilu.
Semalam, saat di berkata bahwa kesimpulannya adalah untuk melepasku, dan menjadikanku seseorang yang tak berharga lagi baginya, aku tak tahu harus menjawab apa karena dia seperti tidak membutuhkan jawaban apapun.


Sepi, kini aku patah hati, entah untuk yang kesekian kalinya, aku terjatuh dan tersungkur,

Jumat, 12 November 2010

apa yang harus aku lakukan?

Kini aku dihadapkan pada satu pilihan yang tak bisa kujawab. kurasa tak ada pilihan lain karena aku tidak melihat peluang lain selain 'ya' atau 'tidak bisa'. Atau memang aku belum mendapat pilihan lain yang tidak menghadapkan aku pada posisi yang terbalik, bahwa aku yang harus memutuskan. Aku berharap Tuhan memberiku 1 lagi, setidaknya 1 kesadaran untuk tetap berada dijalanNya tanpa aku harus meninggalkan keyakinan yang kumiliki. Memang benar kata-kata 'Tuhan Memang Satu, Kita Yang Berbeda'. lalu apa yang bisa dipersalahkan dalam kondisi dan situasi sulit seperti ini? Seseorang berkata kepadaku, lebih baik memilih Penyelamatku, yang telah bersedia mengorbankan nyawanya untukku daripada orang yang kucintai, yang justru mengharuskanku mengorbankan diriku sendiri untuknya.

Senin, 08 November 2010

Ceritaku Pada Sepi

Saat-saat seperti ini, aku merindukan kehadiran sepiku sendiri...
Disini, didalam sini, ramai melingkupi...
Aku benci situasi seperi ini...
Saat-saat transisi untuk menemukan dan menentukan mana dan siapa yang benar-benar ditunjukkan dihadapanku kini...


Tenangkan hati, redakan emosi,, tetap bersabar jalani hari,,,

Senin, 25 Oktober 2010

Aku Meragukan Pilihanku Sendiri

Sepi,
Kali ini aku habis akal untuk segala pilihanku sendiri. Di satu sisi aku yakin karena cintaku dan kasihku sudah tak terbatas lagi untuknya. Di sisi lain aku ragu karena banyak pihak yang menyayangkan (tidak meyetujui) hubunganku dengannya. bagaimana pendapatmu sepi? Apa yang harus kuambil? mana yang harus kupilih?


Tentangnya, aku sudah menceritakan padamu sepi, bagaimana rumitnya pola hubunganku dengannya. Aku belum begitu memahami dirinya, menyelami hatinya dan mengerti kehidupannya. lalu, aku juga tak tega untuk menyakiti hati 2 yang lainnya. yang 1 ingin kembali ke kehidupanku lagi, yang 1 membutuhkan semangat dariku untuk terus menjalani

Rabu, 13 Oktober 2010

Kenangan Perkenalanku Dengan Sepi

Dulu, jauh sebelum ku mengenal sepi, aku terpuruk sendiri tanpa teman. Mati hati karena keraguanku, mati jiwa karena rasa tak percayaku yang kubuat menjadi bahan untuk hancurkan diriku sendiri...


Saat aku berdiri sendiri, terpaku memandangi bayang diri, menatap dan meraba seluruh semu, yang semakin menjelas dan...kemudian menghilang...
Kapan seluruh kenangan berlalu, supaya aku bisa memulai hal yang baru tanpa rasa ragu...
Lelah aku memaksa diri ini untuk beranjak, dari tanah tak pasti yang kupijak...
Karena diriku sendiri memerintahkan hatiku untuk pergi, tapi otakku memaksa untuk tinggal..
Sulit mempercayai bahwa inilah yang terjadi padaku. Kesakitan dan kepedihan yang tak berujung bahagia. Hanya rasa dan angan yang menyatu tak membuahkan mimpi nyata.
Terperangkap diriku dalam bayang ketakberdayaan. Rantai kenangan mengikat kuat diriku. Meminta untuk jangan pergi.
Tetaplah pada akhirnya aku sendiri. memerangi kalut hati ini. dan melawan seluruh emosi tanpa kawan, tanpa teman....


Bayang berkabut depan mataku tak akan pudar, karena aku tak mampu menghapusnya... sulit merasakan karena mataku buta untuk melihat arah yang sebenarnya, lidahku kelu untuk mengusir pergi, tanganku lumpuh untuk mendorong pergi menjauh dan otakku tumpul oleh kebimbangan yang tak tau kapan menghilang...


Disaat itulah aku belajar memahami dan berteman dengan seorang sepi, yang mampu membuat diri ini sejenak berinstropeksi untuk siap menghadapi halangan apapun yang terjadi.


Dan disinilah aku sekarang, berdiri keras menatap masa depan penuh harapan. Bertekad untuk menjadi kuat setegar karang. Mencoba belajar menjalani hari-hari dengan penuh keyakinan. Walaupun tertatih melangkah, sepiku kini berubah menjadi sehabat sejati yang tak perlu lagi kucari, karena dia datang sendiri membawa obat luka tanpa airmata dan penyesalan.


Sepi, terimakasih kau telah bantuku lewati semua ini...

Sepiku Kini Tak Kunjung Kembali

Saat-saat belakangan kurasa kedamaian tak lagi melingkupi hariku. Sepiku kini yang dulu selalu menemani tak lagi menjumpaiku. Mungkin dia sedang sibuk menata hati-hati yang lain. Aku merindukanmu,sepi,yang dulu selalu menemaniku dan setia menaungiku dalam bayang kedamaian. Keramaian yang kurasakan membuatku bingung,akan semua pilihanku,akan semua yang kujalani, dan semua hal yang kuyakini kini kurasa tak pasti kemana berujung. kapan kembali,sepi? Aku menunggu kehadiranmu setiap waktu. Jangan lupa,bila kau kembali,ceritakan padaku apa yang selama ini kaujalani ya...

Kamis, 16 September 2010

Opening Write..

Hmm,rasanya sudah lama aku tak mengurus blogku yang satu ini,,baru saja aku menghapus seluruh postingan yang sudah sempat kuposting,akan kucoba cara yang lebih baik, maaf jika ada yang merasa tersinggung atau terkecoh dengan blog ini. Percayalah,aku berusaha jujur,tapi jangan juga terlalu mempercayai kejujuranku,,