Jumat, 27 Mei 2011

Ketidakrelaanku

Tuhan,
hari ini aku membaca surat darinya
dia benar-benar akan dan pasti meninggalkanku
biarkanku bahagia bersama orang yang dikiranya bisa kusayangi
tapi dia tidak tahu Tuhan
dia hanya bisa berkata karena keegoisannya saja
tanpa pernah merasa bagaimana aku jika dia benar-benar sudah tidak ada
aku rela Tuhan
jika dia pergi bersama bahagia
tapi dia akan segera berlalu membawa kelabu
bagaimana bisa seorang pria yang kucintai pergi tanpa pesan
dan tak akan kembali lagi karena tak ada alasan
dia yang ada dalam setiap benakku
dalam segala impianku, kugantungkan namanya
dalam tiap bisikanku, kutiupkan pada angin untuk sampaikan betapa besar rinduku padanya
tapi dia tak pernah tahu

Sabtu, 21 Mei 2011

-TERIMAKASIH-

Untukmu yang telah ajarkanku cara mencintai
terimakasih..

Untukmu yang sudah beriku cinta tiada batas
terimakasih..

Untukmu yang selalu memberiku peneduhan dalam galau
terimakasih..

Untukmu yang selalu marahiku jika lakukan sedikit -banyak- kesalahan
terimakasih..

Untukmu yang selalu berikanku tawa ditengah duka
terimakasih..

Selasa, 03 Mei 2011

Apa Aku Yang Salah??

Tuhan
Apa aku yang salah jika memilih untuk mencintainya?
Apa aku yang salah jika aku memilih untuk tetap menjaga hati ini untuknya?
Tapi Tuhan,
Dia telah pergi tinggalkanku sendiri disini
Meratapi hari dimana aku biarkan dia pergi
Hari dimana aku tidak pernah menganggap keberadaannya untuk yang kesekian kali

Jahatkah aku?
Jika baru sekarang aku menyadari aku telah begitu sering menyakiti hatinya?
Jika baru sekarang aku menyadari sebegitu besar luka yang kutimbulkan dalam dirinya?

Senin, 11 April 2011

Aku Menjadi Sepi

TEMANKU YANG SEDANG PATAH HATI,,

Walaupun itu semu
tapi kau bisa mengubahnya menjadi lagu
lagu yang bernyawa
lagu yang memberi cinta
lembut mendayu mempesonakan jiwa
menyembuhkan setiap hati yang luka
jika kau nyanyikannya dengan sepenuh jiwa
sebagai penghibur duka dan lara

Menarilah dan tertawalah bersama dunia
karena berkat dan kasih sayang melimpah akan datang jua

Kamis, 07 April 2011

Kelabu I

Aku terdiam memandangmu kelabu,
berharap dalam hati biar kau segera berlalu
agar aku bisa dengan bebas merentangkan sayapku
mengikuti kemana mata ini memandang hingga pucuk mampu
aku akan terbang mengitari langitmu
karena itu, hendaklah kau pergi dan terganti
oleh awan cerah yang janjikan indahnya hari

Mimpiku tak kan hilang hanya dengan tersabut hitammu
tapi itu cukup untukku tak bentangkan pikiranku
aku sudah berkelana cukup jauh untuk berhenti

Jumat, 25 Maret 2011

Senja I

Senja,

Dear Senjaku, sore ini kulihat dirimu kelam. Keindahanmu tak terpancar dimataku. Kilaumu yang biasa pantulkan bias cahaya matahari tertutup oleh awan kelam yang berarak menutupi sang langit. Kurasakan hembusan udara dingin dengan kuat menerpa tubuhku. Mendung telah menutupi cantikmu dari pandangan mataku. Kemanakah engkau hei Senja?

Aku merindukanmu, Senjaku. Tapi mengapa sekarang seolah mendung yang kelabu yang mengikutiku selalu? Aku tahu kemanapun aku pergi saat ini, malamlah yang menyongsongku. Langit gelap sudah mulai menaungiku untuk habiskan malam tanpa bintang. Senjaku, jangan tinggalkan aku terlalu lama. Karena aku tidak mampu menerima transisi sebegitu cepatnya, tak ubahnya siang menjelang malam, dimana kehadiranmu mulai terabaikan. Begitu besar pengharapanku padamu mengalahkan segalanya yang kupunya dalam hidup. Padamu

Selasa, 22 Maret 2011

Haii... Tinkerbell




Inilah sosok yang kucari dan kusuka. Tahukah kalian tentang Tinkerbell? Tinkerbell adalah peri yang ada di cerita PeterPan. (Setahuku) Dia adalah peri yang sangat setia kawan. Dimanapun Peterpan berada, sebesar apapun kesalahan PeterPan, dia tetap memaafkannya. Aku ingin menjadi seperti Tinkerbell dimata orangtua dan semua teman-temanku. Hmm,, bukan hal yang mudah bukan? Tapi patut dicoba. Senang juga bukan rasanya memaafkan dan menjadi seseorang yang selalu ada dimanapun dibutuhkan. Menjadi kepercayaan dan selalu membantu tanpa pamrih, tanpa meminta balasan akan apa yang sudah kita berikan. Dimulai dari hal yang kecil saja, ikhlas. memberi senyum saja sudah bisa membuat orang lain bahagia.


Dimulai dengan senyum, aku merasakan, pernah dulu aku menjadi orang yang benar-benar tidak pernah peduli dalam hal apapun. Hanya ada aku dan sepiku. Entah yang kulakukan meyakiti hati orang lain, ataukah membuat orang kesal aku tidak peduli. Jika bertemu, sedang mood tidak baik, aku tidak memberikan sedikit senyum pada orang yang kutemui itu. Tapi hidup itu berjalan dan bergerak. Lambat laun kesadaran mulai menghampiriku. Ternyata ngga enak ya, dicuekin, dijutekin dan diberi ekspresi yang tidak mengenakkan hati. Sebagai manusia yang belajar kedewasaan aku mencoba untuk menginstropeksi diriku sendiri, apa yang aku lakukan sudah mirip Tinkerbell? Maksudku pemaaf dan pemberi kebahagiaan bagi orang lain. Yah, namanya juga mencoba, seburuk apapun hasilnya akan lebih baik daripada tidak menyadarinya sama sekali kalau itu buruk, bukan?


Dalam bekerja juga, pekerjaanku yah, bisa dibilang kurang menyenangkan, tapi jika kucoba untuk menikmatinya mungkin hasil yang kuterima juga tidak terlalu biasa-biasa saja untukku.
SEMANGAT DUWII!!!


Hehe....
Mungkin nanti jika ada orang yang membaca akan berkata, Wuideh, si Duwii mulai sadar, hehehehe...




Semoga bisa.


Marilah kita bersama-sama belajar menjadi manusia baru, manusia yang bisa memberi lebih banyak kebahagiaan pada orang lain..Yukk...

Sabtu, 19 Maret 2011

Confused

Sekarang, aku sangat dibingungkan oleh pilihan yang kubuat sendiri. Sepiku kini mengalami kecemburuan yang luar biasa hingga dia pun lebih memilih pergi dan melupakanku (lagi). Tidak akan kubiarkan itu terjadi. Walaupun aku menyadari sangat banyak perhatiannya yang kuacuhkan, cintanya yang kukesampingkan hanya untuk menuruti egoku yang sedemikian berkuasa diatas segala kehendakku. Begitu  jahatnya aku untuk tetap memaksanya tinggal padahal aku sudah mempunyai pilihan. Tapi tahukah dia bahwa alasanku untuk memaksanya tinggal adalah karena aku belum mantap tentang segala pilihan yang kujalani saat ini dan betapa aku masih sangat membutuhkan kehadirannya dalam hidupku. Dia bagian dari hidupku, sepi. Aku tidak mampu membayangkan bagaimana hidupku jika dia pergi.

Kesadaran yang kudapati saat ini sudah terlanjur, dan aku tidak tahu apa yang harus kulakukan karena jawaban semua orang yang kuceritakan selalu sama : sudah terlanjur. Aku ingin sekali memilih sepiku yang diam. Dia yang tanpa kusadari kehadirannya kini sudah benar-benar mengisi hidupku. Tapi bagaimana ini? Aku sudah mengambil keputusan. Bisakah kutarik lagi kata-kata "AKU MAU" itu dari hadapannya? Tidak bisa kubayangkan betapa akan hancurnya hatinya yang sudah terlanjur berbahagia karena aku menerimanya, lebih memilihnya dan berniat menjalani dengannya. Apa yang harus aku lakukan kini jika aku tetap menjalani yang satu? Sementara sisi hatiku yang lain sudah terlanjur juga dimiliki dan kuserahkan tanpa kusadari pada sepiku yang diam dan selalu ikhlas menerima apapun keputusanku?

Terlalu banyak pertanyaan yang sukar dijawab. Dan akupun bingung pada siapa aku bisa bertanya dan mendapat jawaban yang bijak mengenai apa yang kurasa. Karena dari sekian banyak orang yang kujumpai, mereka menjawab, IKUTILAH KATA HATIMU


Sepi, kali ini aku butuh bantuanmu...

Selasa, 22 Februari 2011

Aku Harus Merelakannya Pergi





Pernahkah kau begitu mencintai seseorang, hingga menatapnya dari kejauhan saja sudah cukup untukmu?

Pernahkah kau begitu menyayangi seseorang, hingga melihatnya tersenyum sudah cukup membuatmu turut berbahagia?
Pernahkah kalian begitu menginginkan seseorang, hingga rela melakukan apa saja untuk membuatnya tetap disampingmu?

Aku pernah. Tapi dengan begitu bodohnya aku membiarkannya pergi, tepatnya aku yang memintanya pergi. Aku menyadari itulah kesalahan terbesarku saat ini. Dengan segala upaya yang telah aku lakukan untuknya, dengan segala hati dan jiwaku yang ikut larut didalamnya, aku justru memintanya pergi. Aku yang mendorongnya menjauhiku untuk biarkannya dapatkan cinta yang lebih kuat dari cintaku, dapatkan

Minggu, 30 Januari 2011

Sepiku Selama Ini Berikan Arti

Aku menyadari, betapa banyak perubahan yang terjadi pada diriku selama ini. Hari demi hari kulalui dengan keyakinan yang berbeda, dengan gerak langkah yang tak selalu sama, tapi dengan 1 tujuan, mencari arti diri ini menjalani hidup yang telah dianugerahkan padaku. Perubahan yang kudapat saat ini adalah hasil dari perjuanganku mengalahkan segala rasa takut, segala ketakpercayaan akan keberhasilan dan segala kepesimisan menatap hari esok yang lebih cerah.


Sepiku yang selama ini kujadikan pelindungku untuk menamengiku dari segala cacian, segala kegagalan, segala kesakitan dan segala ketakberdayaan lambat laun mulai kuseimbangkan dengan kondisi yang sedang berlaku. Aku tau aku tak akan mampu untuk memulai segala sesuatu dari diriku sendiri, tapi betapa menyenangkannya melihat kebelakang sebagai

Senin, 24 Januari 2011

Ketakutan Itu Mulai Menghantuiku

Dear sepi,


Engkaukah yang ada disana? Menantiku dengan kedamaian hati yang tak tergantikan..?


Aku ragu, karena baru kali ini aku mendapat tekanan dari berbagai pihak. Seolah tak satupun yang berpihak padaku, menemaniku, membelaku, menggantikan posisimu yang dulu begitu sempurna disisiku. Betapa aku merindukan pelukan kedamaianmu melingkupiku. Hangatnya logika darimu yang menyegarkan pikiranku kembali. Tapi resahku kini kalahkan segalanya.


Inikah hukuman darimu sepi? Untukku yang selalu tak pedulikanmu dikala aku bahagia? Jangan lakukan ini padaku, karena sekarang tiap kau muncul di benakku, hanya kesedihan yang muncul. Hanya tangis tertahanku yang ingin tumpah. Dan hanya isakku yang keluar dari bibirku...


Sepi, terimakasihku untukmu selalu karena kusadar kau tidak pernah benar-benar meninggalkanku. Kau hanya menjaga diri untuk tidak terlalu dekat denganku, supaya aku menyadari bahwa nyatalah yang harus kuhadapi, bukan hanya kesendirian. Tapi sepi, tahukah kau bahwa ketakutan itu mulai merajai hatiku? Mulai menggerogoti setiap inci pikiran ini hingga kekalutan yang kuhadapi serasa membuatku terdorong maju dan mendekati masalah sebenarnya. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan sepi? Apa yang akan kuhadapi, dan apa yang sekarang kuyakini untuk selesaikan itu semua.


Tetaplah berada bersamaku, untuk berikanku keyakinan akan segala tindakan yang kulakukan, akan segala hal yang kutakuti, bahwa Tuhan memberiku apa yang kubutuhkan, bukan yang kuminta.


Sepi, terimakasih sudah mengajariku bagaimana menghadapi segala resiko dari segala tindakan yang kuambil. Walaupun belum semua benar-benar kuketahui, tapi aku sudah belajar..


Terimakasih sepiku..

Rabu, 12 Januari 2011

sosok lain pengganti sepi

Kini, perlahan kesadaran mulai merasuki pikiranku. Dia yang selalu terdiam, kini mulai kusadari eksistensinya sebagai seorang yang setia menemaniku dalam sepi. Entah harus berbahagia ataukah harus bersedih karena sekarang ini kekacauan yang merayapi pikiran penatku. Sosok ini selalu memberiku energi positif untuk menjalani hari dan rutinitas yang membosankan dan melelahkan. Aku tak tahu harus berbahagia ataukah harus bimbang atas segala kondisi yang menghampiriku.


Dia, pengganti sepiku. Tapi dia yang lain kini sudah kembali lagi. Sepi, itukah dirimu dalam sosoknya? Ataukah hanya sebuah semu yang hanya ditunjukkan untuk membuatku tersenyum

Rabu, 05 Januari 2011

Aku Yang Baru

Pagi ini kulihat dari kaca jendela kantorku jika bisa disebut kantor beku, dan dingin. Aku berdiam sejenak disela kekosongan jadwal kerja (hmm, masih tutup buku), jadi kuputuskan menulis sajalah, sekedar bercerita, entah untuk berbagi beban ataupun kesenangan. Ini posting pertamaku tahun ini.


Tahun yang baru, dan kesedihan yang baru. Tapi bukan berarti hanya kesedihan yang datang, mungkin aku sedang diberi penempaan dari Tuhan untuk menjadi manusia yang lebih kuat dan tidak hanya menjadi makhluk lemah yang hanya bisa menangis ketika ditinggalkan.


Begitu banyak yang harus direnungkan akhir tahun dan awal tahun. Mungkin itu

Selasa, 21 Desember 2010

Sepiku Kini Berteman Fajar

Dear Sepi,
Di indahnya pagi hari aku menemukan keindahan lagi selain dirimu, betapa Tuhan menciptakannya begitu indah hingga mempesonakan mataku akan indahnya dunia ini. Namanya Fajar, dia kini menemaniku, walaupun entah aku sukar sekali untuk bertemu dengannya, kuharap kalian bisa berteman baik. Karena dia kini menjadi pelengkap senjaku yang telah tiada. Sepi, aku ingin sekali ada perubahan dalam diriku, tapi tak kunjung kutemui itu. Haruskah aku berlari mengejar yang tak pasti, atau aku harus menunggu perubahan itu datang dengan sendiri?


Aku lelah, tapi aku tetap tidak patah semangat, karena jati diriku sendiri, sudah menunggu di ujung mimpi. Akan kuraih...

Minggu, 21 November 2010

Sepi, dia ikut pergi...

Dear sepi,


Sepiku kini memutuskan untuk pergi, ya Tuhan, tak kusangka dia benar-benar melepasku, disaat aku sudah terpati dengannya. Jangan datang lagi, karena jika kau kembali, hati ini akan semakin terasa perih, tersayat pilu.
Semalam, saat di berkata bahwa kesimpulannya adalah untuk melepasku, dan menjadikanku seseorang yang tak berharga lagi baginya, aku tak tahu harus menjawab apa karena dia seperti tidak membutuhkan jawaban apapun.


Sepi, kini aku patah hati, entah untuk yang kesekian kalinya, aku terjatuh dan tersungkur,